clock

Jumat, 09 Mei 2014

cerpen



Dalam Diam





        Sejuknya masih melekat, dan aroma embun pun masih terhirup. Ku rekatkan jaket biru yang telah menyelimutiku selama semalaman penuh.Bahkan mata ini masih basah, bahkan aku pun tak tau kapan aku berhenti menangisi kepergiannya dari hidupku. Ku lihat jendela di samping tempat tidurku, disana masih tersisa titik-titik air hujan yang menetes.
"kembalilah..kembalilah dengan cinta mu" Rintihku dalam hati.
Perlahan namun pasti air yang terbntuk dimata ku, kini mulai jatuh, menetes dengan lembutnya membasahi pipi .Sedih rasanya jika tak bisa bertemu lagi denganya , dan tak bisa merasakan pelukan hangatnya saat ia merengkuh tubuh beku akan kerinnduan ini.
Mulai ku pejamkan lagi mata ini, berharap semua yang terjadi hanya sekedar mimpi. Dan alhasil , itu bukan mimpi tapi bisa juga disebut sebagai mimpi, mimpi yang sangat buruk, mimpi buruk yang beralih menjadi kenyataan pahit bahkan mnyakitkan. "Kembali.." Rintihku lagi, tak lelah ku berharap agar dia kembali, meskipun aku tahu pada akhirnya ia takkan pernah kembali dihidupku lagi, tapi aku yakin aku kan bertemu dengan nya walau hanya di batas mimpi, tapi akankah aku harus hidup terus menerus dalam mimpi. Jawabannya:  ya ,jika aku adalah sosok egois yang mengabaikan sekelompok orang yang masih peduli dan menyayangiku, tapi aku memilih jawaban Tidak, Karena aku yakin aku akan menemukan sebuah kebahagian, kebahagiaan yang tersembunyi dibalik semua ini, kebahagian yang telah tertata rapi diambang kenyataan yang pahit. Kebahagiaan yang masih terpendam bisu tanpa suara, bahkan dalam diam yang menyedihkan
***
Ku mencoba melalui hari-hari seperti biasa, meskipun agak sedikit berbeda, kulalui semua ini dengan harapan aku bisa melupakan semua yang telah terjadi, menepis resah setiap kerinduan itu muncul. Sayangnya kejadian waktu itu masih melekat dalam memoriku. "kapan aku bisa melupakan semua ini dan berhenti menyalahkan diriku sendiri?!" bisiku dalam hati. Dalam situasi seperti ini , yang kubutuhkan hanyalah seorang sahabat . Dalam situasi seperti ini hanya dia yang bisa memahamiku, disaat orang yang dulu paling mengerti aku pergi bahkan tak kembali. Dia Asya, sahabtku sejak kecil, dia yang selalu berada di sampingku dimanapun kapanpun, selalu ada untuk ku saat aku membutuhkannya, dan ajaibnya lagi hanya dia, satu-satunya orang yang bisa mengerti apa yang kubutuhkan saat ini. Dan ku berjanji pada diri ku sendiri untuk selalu menjaganya, apapun yang terjadi, meskipun dengan kondisiku yang sekarang ini, kukan tetap berusaha.
"Dimakan dulu Ra, nanti kamu sakit" ucap Asya kepada ku. Aku hanya menggelengkan kepala ku dengan tatapan yang kosong "Ra, plis makan dulu. udah dua hari  kamu ngga makan sama sekali. Aku khawatir Ra! "ucapnya. Kulihat ada sepintas ketulusan dimatanya dan akhirnya aku menuruti apa yang ia inginkan.
Semenjak kejadian itu, kuhanya bisa diam. Dalam Diam yang tersimpan berjuta kerinduan yang menyayat. "Dimana Dia sekarang? Apakah dia sudah mengetahui tentang semua ini?" tanyaku dalam hati ketika kerinduan akan sosok yang berbeda itu muncul.Disini ku slalu berharap Smoga ia cepat kembali, sosok yg berbeda ini bisa ikut merasakan apa yang kurasakan. Entah ada apa diantara kami, tapi memang begitulah kenyataanya.
***
Pagi Ini kuputuskan untuk berkeliling sekitar villa, setelah puas berkeliling untuk menepis semua resah dan rindu yang telah bersarang, kuputuskan untuk singgah di tepi danau , sambil mengenakan syal biru pemberiannya. Ia paling suka saat aku mengenakan syal itu, tak jarang ia berkata bahwa aku terlihat lebih manis dengan syal pembrianya itu. Kuarahkan pandangan ku ke danau yang membentang luas, lalu ku pejamkan kedua mata ini ditengah semilir angin yang menari-nari disekitarku sembari membayangkan kehadirannya disini, tengah duduk bersamaku, sambil memandang bintang-bintang  yang bercanda riang dengan kerlipnya diatas sana. Ya, itu lah yang biasa kami lakukan saat kami masih bersama. Usai itu, ku lanjutkan perjalanan ku, kembali pulang ke Villa, sebelum Asya khawatir dengan ku, yang pergi tanpa pamit
Setelah sampai rumah, ku langsung menuju kamar tidurku, saat kulihat potret ku bersama kawan-kawan kala itu, selintas kerinduan akan kenanganku bersama mereka muncul dengan sendirinya. Kenangan yang tak dapat dilupakan meski masa masa sekolahku telah berlalu. Ingin ku seperti teman yang lain sibuk mencari Universitas favorit untuk jenjang selanjutnya, tapi sayang, ku hanya bisa menghabiskan sisa-sisa hariku ku dengan tinta hitam dan secarik kertas diatas tempat tidurku. Menulis apa yang perlu kuungkapkan serta harapan-harapan yang masih tersisa dalam hidupku. Tak jarang setiap malam ku selalu berdoa, semoga masih bisa dipertemukan dengan mentari esok dan embun pagi yang menyapaku setiap paginya."Kupercaya akan kuasa Mu ya Robb ku, Kau yang Maha segalanya, kekuasanmu melebihi apapun. Dan ku yakin, apa yang telah dan akan kau berikan adalah yang terbaik, semoga esok hari ku masih bisa menikmati nikmat mu Ya Robb. Cukup dengan melihat mentari di pagi hari dan bintang yang bertaburan setiap malamnya, selalu saja begitu dan sudah cukup bagiku. Amiin". "Aamiin"ucap Asya sahabatku. Pandanganku tertuju ke arah bayangan hitam yang terbentuk akibat cahaya kecil yang bersinar disekeliling kamarku."Aku tau Ra, kamu sedang berdo'a. Tetaplah semangat sahabat kecilku, Kamu pasti bisa,"katanya meyakinkanku untuk kesekiankalinya sembari berjalan mendekatiku yang duduk diatas ranjang . Lantas hanya kulemparkan senyum manis dari bibirku, sebagai ucapan terimakasihku.

***
Setelah menghabiskan waktu beberapa minggu untuk melepas penat di Villa itu, kini tiba saat nya  kembali ke Ibu kota untuk menghadiri acara Wisuda SMA ku, bersanding bersama kawan-kawan dengan kebaya Wisuda, foto perpisahan bersama, bercanda ria untuk yang terakhir kalinya "Unforgetable Moments" bisikku dalam hati.
"Ra..udah sampe nih,"ucap Asya "Raa?!"ucapnya lagi sambil menggetarkan bahuku yang sempat membuyarkan lamunanku. "cieeh..nglamunin apa ayo? Ihh senyum-senyum sendiri, emmt aku tau, Nglamunin Abbas yaa"ucapnya sambil melirik padaku. Dan aku pun hanya bisa tersipu malu oleh nya.
Mungkin rindu ini akan segera terobati, bertemu lagi dengannya di penghujung perjalanan SMA. Hari itu kami semua berkumpul disekolah untuk mengetahui pengumuman acara wisuda, tanpa disengaja ku berpapasan dengannya, dan tanpa disengaja juga tatapan mata kami beradu, dan sejak itu waktupun terasa berhenti seketika. Selama ini kami hanya saling diam, tatapan mata yang beradu dalam diam. Ku berusaha menyembunyikan perasaan yang ada dengan langsung mengalihkan pandangan mataku darinya, tapi ku merasa ia tetap saja menatapku. "Oh No, Pasti hanya perasaan kusaja" Ucap hatiku untuk menepis resah yang tiada bertepi. Dibalik diam ku, hatikupun bersorak, bersyukur masih dipertemukan dengannya, meski tak satupun kata terucap, tapi itu sudah cukup bagiku, cukup dengan melihatnya dalam keadaan yang baik-baik saja, bisa tersenyum lepas bersama kawan-kawannya. It's enough.
"Ra , kamu nulis apa ?" tanya Ria yang ada disampingku. Kulemparkan senyum pada Ria sambil menggelengkan kepalaku. aku tak ingin semua orang tau akan perasaan dalam hatiku ini, meskipun terkadang ada beberapa teman yang sering membicarakan antara aku dan Abbas tetapi aku tetap memilih untuk menyimpnnya dalam Diam. "Oiya Sya, wisuda besok, Ayah ibu kita juga diundang hlo, gimana keadaan papah kamu, udah sembuhkan?"tanya Ria kepada Asya. "oh..iya? hehehe Alhamdulillah Ria, udah sembuh kog "balas Asya dengan senyum.
Semenjak diumumkan acara wisuda itu hari-hari yang biasa kulalui berubah menjadi hari-hari yang melelahkan, cari kebaya sana sini, berbelanja perlengkapan, pergi ke salon, yah itulah yang kini menyibukkan Asya dan diriku.
***
Dan pada akhirnya..
“Ayo Ra , acara wisudanya keburu mulai "ajak Asya kepadaku, sebelum meninggalkan kamar. Sepanjang perjalanan menuju tempat wisuda entah mengapa hatiku gundah, memikirkan aku nanti akan bersanding dengan siapa, nilai ujian ku berapa, apakah prestasiku bisa seperti yang diharapkan Ayah dan Ibu atau hanya sekedar mengecewakan . Semua rasa penasaran dan gundah beradu menjadi satu. Setelah sampai ke tempat wisuda, ku melihat teman teman ku begitu senang dan riangnya, terpancar dari raut muka dan senyum yang terlintas. Acara wisuda pun dimulai, semua kawan-kawan ku bersanding bersama ayah ibu mereka masing-masing. Sedangkan aku hanya bisa melihat kebahagiaan mereka, dan berharap aku pun bisa ikut merasakannya. Ingin rasanya merasakan pelukan hangat itu lagi, tapi sayang, dia kini telah pergi dan tak kembali. kuputuskan untuk pergi keluar gedung wisuda, dan menyendiri. Aku merasa rindu Ayah dan Ibu. Tetes demi tetes air mata yang turun kian deras. Diam yang menyedihkan dengan rindu yang menyayat. Rasanya, hati ini tak terlalu kuat jika harus memendam semua kisah ini sendiri, semenjak kejadian itu semua menjadi kelabu dan bahkan hitam kelam. Ku kehilangan sosok yang mencintaiku yaitu Ibuku, dan bahkan dengan kondisi yang seperti itupun Ayahku tak berada disampingku. Hubungan kami mulai renggang semenjak Ayah dan Ibu bercerai, inginku berteriak sekencang mungkin agar mereka kembali, jika mereka tidak kembali, setidaknya mereka bisa mengerti dan merasakan apa yang ku rasakan saat ini. Tapi sayangnya, kini ku tak bisa berteriak untuk membuat mereka mengerti bahkan memahami apa yang kurasakan. Semenjak kejadian itu, yang dapat kulakukan hanyalah tersenyum untuk berterimakasih, menggelengkan kepala yang berarti tidak, dan menganggukan kepala yang berarti iya. Saat ku ingin pergi kemanapun, ku hanya bisa menggunakan kedua tangan ku untuk memutar kursi roda tua ini, karena sekarang kedua kaki ku lumpuh, kutak dapat berbicara seperti dulu lagi, hal itu sudah cukup menyakitkan bagiku, tapi sayangnya semua cobaan ku tak hanya berhenti di situ, akibat tragedi malam itu, akupun juga kehilangan Ibu ku untuk selama lamanya. Sakit sekali rasanya jika harus kehilangan sosok Ibu yang telah mencoba menyelamatkan ku, hal ini terlalu cepat untukku alami sendiri. Dan dengan kondisi yang seperti itu pun, dimana keberadaan  Ayahku, orang bisa merasakan apa yang kurasakan, dimana ia saat itu. Hati ini semakin berkecamuk, dengan setumpuk pertanyaan , sakit, benci, rindu beradu menjadi satu.
Ku tatap langit malam yang penuh bintang dan berharap Ayah ada disini ikut menyaksikan bintang-bintang yang berkerlip indah. “Ayah , engaku dimana? Apakah kau tak merindukan anak mu yang malang ini? Ayah aku yakin, engkau juga merasakan apa yang kurasakan saat ini, tapi apakah kau tak ingin melihatku?  Bertemu sesaat dengan ku setelah beberapa tahun kita terpisah oleh jarak dan waktu?” Ucapku dalam hati. Lantas kupejamkan mataku "Ya Robb ku, ku takkan berhenti berharap agar aku bisa bertemu dengan Ayah ku lagi, agar dia tau betapa aku merindukannya, agar dia tahu betapa ku menyayanginya, dan agar dia tau, bahwa aku memang sangat membutuhkannya. Ku juga takkan berhenti berharap, agar aku masih di beri kesempatan untuk tetap bertahan, sampai akhirnya aku bisa bertemu dengan Ayahku meskipun untuk yang terakhir kalinya, pertemukanlah aku ya Robb Amiin"Do'aku dalam hati.
"Kenapa kau diluar sini ? bergabunglah dengan teman-teman mu bidadari kecilku" ucap seseorang yang berada dibelakangku. Hatikupun tersentak mendengar suara yang tak asing itu. "Ayaah?" ucapku dalam hati, langsung ku putar badanku menghadap kebelakang, dan yang membuat terkejut adalah tak ada seorangpun disana. Jantungku kembali berdegub kencang, Hatiku berasa sesak oleh setumpuk pertanyaan akan suara itu, mungkin aku hanya berhalusinasi karena rindu yang sudah sekian lama tertancap dalam hati. Mungkin rindu ini layaknya sebuah penyakit yang benar-benar akut, bahkan menahun , sampai sampai desah angin pun ku anggap suara Ayah ku sendiri. Resah akan kerinduan dalam hati ini semakin berkecamuk semenjak tragedi itu ..
"Masuklah kedalam Nak , kamu dicari teman-temanmu Aurora , bergabunglah dengan mereka" Ucap suara misterius itu, hatikupun tersentak untuk kesekiann kalinya dan langsung memutar kursi roda ku kearah belakang dimana sumber suara itu berasal. Tak kusangaka, tak ku kira  sosok yang berdiri di belakang ku adalah dia. "Ayaah ?! "teriakku dalam hati. "Iya bidadari kecilku" ucap Ayahku. Langsung kuhampiri Ayah ku dengan mengerakkan  kursi rodaku, lantas kupeluk Ayah dengan seerat mungkin dan agar ku tak kehilangannya untuk kesekian kali
Akhirnya Rindu yang sekian lama terpendam terobati juga . "Maaf Aurora, Ayah tadi sempat menghilang, karena Ayah tadi mengambil syal biru yg tertinggal di villa kemarin . Mungkin kau lupa tak membawanya. dan ini, pakailah Nak, kau terlihat lebih manis sekarang" Ucap ayah sambil mengenakan syal di leherku. "Maaf kan ayah Nak, tak bisa berada disamping mu saat masa-masa sulit menghadangmu, maaf kan Ayah. Ayah tak bermaksud meninggalkanmu sendiri, andai kau tahu, Ayah waktu itu datang ke Pemakaman Ibumu, asal kau tau waktu itu ayah ingin sekali bertemu dengan mu, tapi keadaan mu masih kritis. Ayah menunggu mu sampai siuman Nak , tak lelah ayah selalu berdoa untuk kesembuhanmu, meskipun pada akhirnya keadaan mu seperti ini kau harus tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup. Waktu itu ayah ingin mengucapkan perpisahan pada mu Nak, tapi kau terlalu lelah, dibawah tekanan yang amat berat jadi Ayah tak ingin mengusikmu. Dan karena tuntutan pekerjaan, waktu itu ayah putuskan untuk kembali ke Luar Negeri. Maaf kan Ayah, Ayah sangat merindukanmu Aurora" Ucap ayah lantas, memelukku. Air mata ku jatuh kian deras, membasahi pipi ini dengan lembutnya. " terima kasih ya Allah, terima kasih."ucapku dalam hati. Akhirnya aku bisa merasakan pelukan hangat Ayah ku lagi, setelah beberapa waktu telah terpisah oleh jarak dan waktu.
Setelah melepas penat diluar gedung wisuda, ku putuskan untuk kembali ke dalam bersama Ayah. Rangkaian acara demi acara telah terlewati, Hasil Ujian pun sudah keluar dan alhasil aku masuk juara 3 paralel seperti apa yang diharapkan Ayah Ibuku, ponselku bergetar, ada beberapa sms masuk, salah satunya berisi :
“Selamat.. Aurora Azzahra Latifah  J
Aku sangat bersyukur mendapatkan ucapan Selamat dari Abbas, sungguh hal yang tak kusangka sebelumnya. Lantas kubalas pesan singkatnya:
“Iya, Abbas. Makasih Banyak yaa J
“Iya, sama sama!"
Selain itu, aku juga ditawari Ayah temanku yang memiliki salah satu perusahaan penerbit buku terkenal untuk menjadi penulis cerpen dan novel remaja, mereka mengatakan suka dengan cerpen yang akhir akhir ini aku posting di blog ku. Ku amat sangat bersyukur. Tak hanya itu, saat akhir acara pun aku sempat bertemu dangan Abbas, ia melemparkan senyum padaku, jantungku berdegub kencang,  lalu ia menghampiriku dan memberikanku sebuah kotak , entah apa isinya aku tak tahu , bahkan aku belum esmpat membukanya, karena pada saat perjalanan pulang, aku dan Ayahku mengalami kecelakaan, kami tewas seketika akibat kecelakaan malam itu. Masih terbayang berkas cahaya putih itu, cahaya itu menghampiriku dan membawa diriku pergi entah kemana.
***

Dari sini ku pelajari..
Bahwa perjalanan hidup itu tak selalu mulus, karena terkadang kita harus melewati jalan yang berliku..
Bahwa hidup tak selalu manis, karena terkadang hidup juga bisa terasa amat sangat pahit...
Tapi disisi lain, Allah selalu memberikan yang terbaik, apa yang telah hilang akan tergantikan dengan hal lain yang lebih baik, lebih indah, bahkan hal yang tak pernah ku duga sebelumnya.
Maka, cukup jalani fase-fase yang sulit dalam hidup ini penuh dengan kesabaran, keikhlasan, dan bersyukur atas semua yang telah diberikan, sekecil apapun hal itu, syukurilah! InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja.
Dan satu hal lagi .. tetap tersenyumlah, karena dengan kau mengikuti senyummu, maka kau akan sampai pada bahagiamu. That's it.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar