clock

Jumat, 09 Mei 2014

cerpen



Dalam Diam





        Sejuknya masih melekat, dan aroma embun pun masih terhirup. Ku rekatkan jaket biru yang telah menyelimutiku selama semalaman penuh.Bahkan mata ini masih basah, bahkan aku pun tak tau kapan aku berhenti menangisi kepergiannya dari hidupku. Ku lihat jendela di samping tempat tidurku, disana masih tersisa titik-titik air hujan yang menetes.
"kembalilah..kembalilah dengan cinta mu" Rintihku dalam hati.
Perlahan namun pasti air yang terbntuk dimata ku, kini mulai jatuh, menetes dengan lembutnya membasahi pipi .Sedih rasanya jika tak bisa bertemu lagi denganya , dan tak bisa merasakan pelukan hangatnya saat ia merengkuh tubuh beku akan kerinnduan ini.
Mulai ku pejamkan lagi mata ini, berharap semua yang terjadi hanya sekedar mimpi. Dan alhasil , itu bukan mimpi tapi bisa juga disebut sebagai mimpi, mimpi yang sangat buruk, mimpi buruk yang beralih menjadi kenyataan pahit bahkan mnyakitkan. "Kembali.." Rintihku lagi, tak lelah ku berharap agar dia kembali, meskipun aku tahu pada akhirnya ia takkan pernah kembali dihidupku lagi, tapi aku yakin aku kan bertemu dengan nya walau hanya di batas mimpi, tapi akankah aku harus hidup terus menerus dalam mimpi. Jawabannya:  ya ,jika aku adalah sosok egois yang mengabaikan sekelompok orang yang masih peduli dan menyayangiku, tapi aku memilih jawaban Tidak, Karena aku yakin aku akan menemukan sebuah kebahagian, kebahagiaan yang tersembunyi dibalik semua ini, kebahagian yang telah tertata rapi diambang kenyataan yang pahit. Kebahagiaan yang masih terpendam bisu tanpa suara, bahkan dalam diam yang menyedihkan
***
Ku mencoba melalui hari-hari seperti biasa, meskipun agak sedikit berbeda, kulalui semua ini dengan harapan aku bisa melupakan semua yang telah terjadi, menepis resah setiap kerinduan itu muncul. Sayangnya kejadian waktu itu masih melekat dalam memoriku. "kapan aku bisa melupakan semua ini dan berhenti menyalahkan diriku sendiri?!" bisiku dalam hati. Dalam situasi seperti ini , yang kubutuhkan hanyalah seorang sahabat . Dalam situasi seperti ini hanya dia yang bisa memahamiku, disaat orang yang dulu paling mengerti aku pergi bahkan tak kembali. Dia Asya, sahabtku sejak kecil, dia yang selalu berada di sampingku dimanapun kapanpun, selalu ada untuk ku saat aku membutuhkannya, dan ajaibnya lagi hanya dia, satu-satunya orang yang bisa mengerti apa yang kubutuhkan saat ini. Dan ku berjanji pada diri ku sendiri untuk selalu menjaganya, apapun yang terjadi, meskipun dengan kondisiku yang sekarang ini, kukan tetap berusaha.
"Dimakan dulu Ra, nanti kamu sakit" ucap Asya kepada ku. Aku hanya menggelengkan kepala ku dengan tatapan yang kosong "Ra, plis makan dulu. udah dua hari  kamu ngga makan sama sekali. Aku khawatir Ra! "ucapnya. Kulihat ada sepintas ketulusan dimatanya dan akhirnya aku menuruti apa yang ia inginkan.
Semenjak kejadian itu, kuhanya bisa diam. Dalam Diam yang tersimpan berjuta kerinduan yang menyayat. "Dimana Dia sekarang? Apakah dia sudah mengetahui tentang semua ini?" tanyaku dalam hati ketika kerinduan akan sosok yang berbeda itu muncul.Disini ku slalu berharap Smoga ia cepat kembali, sosok yg berbeda ini bisa ikut merasakan apa yang kurasakan. Entah ada apa diantara kami, tapi memang begitulah kenyataanya.
***
Pagi Ini kuputuskan untuk berkeliling sekitar villa, setelah puas berkeliling untuk menepis semua resah dan rindu yang telah bersarang, kuputuskan untuk singgah di tepi danau , sambil mengenakan syal biru pemberiannya. Ia paling suka saat aku mengenakan syal itu, tak jarang ia berkata bahwa aku terlihat lebih manis dengan syal pembrianya itu. Kuarahkan pandangan ku ke danau yang membentang luas, lalu ku pejamkan kedua mata ini ditengah semilir angin yang menari-nari disekitarku sembari membayangkan kehadirannya disini, tengah duduk bersamaku, sambil memandang bintang-bintang  yang bercanda riang dengan kerlipnya diatas sana. Ya, itu lah yang biasa kami lakukan saat kami masih bersama. Usai itu, ku lanjutkan perjalanan ku, kembali pulang ke Villa, sebelum Asya khawatir dengan ku, yang pergi tanpa pamit
Setelah sampai rumah, ku langsung menuju kamar tidurku, saat kulihat potret ku bersama kawan-kawan kala itu, selintas kerinduan akan kenanganku bersama mereka muncul dengan sendirinya. Kenangan yang tak dapat dilupakan meski masa masa sekolahku telah berlalu. Ingin ku seperti teman yang lain sibuk mencari Universitas favorit untuk jenjang selanjutnya, tapi sayang, ku hanya bisa menghabiskan sisa-sisa hariku ku dengan tinta hitam dan secarik kertas diatas tempat tidurku. Menulis apa yang perlu kuungkapkan serta harapan-harapan yang masih tersisa dalam hidupku. Tak jarang setiap malam ku selalu berdoa, semoga masih bisa dipertemukan dengan mentari esok dan embun pagi yang menyapaku setiap paginya."Kupercaya akan kuasa Mu ya Robb ku, Kau yang Maha segalanya, kekuasanmu melebihi apapun. Dan ku yakin, apa yang telah dan akan kau berikan adalah yang terbaik, semoga esok hari ku masih bisa menikmati nikmat mu Ya Robb. Cukup dengan melihat mentari di pagi hari dan bintang yang bertaburan setiap malamnya, selalu saja begitu dan sudah cukup bagiku. Amiin". "Aamiin"ucap Asya sahabatku. Pandanganku tertuju ke arah bayangan hitam yang terbentuk akibat cahaya kecil yang bersinar disekeliling kamarku."Aku tau Ra, kamu sedang berdo'a. Tetaplah semangat sahabat kecilku, Kamu pasti bisa,"katanya meyakinkanku untuk kesekiankalinya sembari berjalan mendekatiku yang duduk diatas ranjang . Lantas hanya kulemparkan senyum manis dari bibirku, sebagai ucapan terimakasihku.

***
Setelah menghabiskan waktu beberapa minggu untuk melepas penat di Villa itu, kini tiba saat nya  kembali ke Ibu kota untuk menghadiri acara Wisuda SMA ku, bersanding bersama kawan-kawan dengan kebaya Wisuda, foto perpisahan bersama, bercanda ria untuk yang terakhir kalinya "Unforgetable Moments" bisikku dalam hati.
"Ra..udah sampe nih,"ucap Asya "Raa?!"ucapnya lagi sambil menggetarkan bahuku yang sempat membuyarkan lamunanku. "cieeh..nglamunin apa ayo? Ihh senyum-senyum sendiri, emmt aku tau, Nglamunin Abbas yaa"ucapnya sambil melirik padaku. Dan aku pun hanya bisa tersipu malu oleh nya.
Mungkin rindu ini akan segera terobati, bertemu lagi dengannya di penghujung perjalanan SMA. Hari itu kami semua berkumpul disekolah untuk mengetahui pengumuman acara wisuda, tanpa disengaja ku berpapasan dengannya, dan tanpa disengaja juga tatapan mata kami beradu, dan sejak itu waktupun terasa berhenti seketika. Selama ini kami hanya saling diam, tatapan mata yang beradu dalam diam. Ku berusaha menyembunyikan perasaan yang ada dengan langsung mengalihkan pandangan mataku darinya, tapi ku merasa ia tetap saja menatapku. "Oh No, Pasti hanya perasaan kusaja" Ucap hatiku untuk menepis resah yang tiada bertepi. Dibalik diam ku, hatikupun bersorak, bersyukur masih dipertemukan dengannya, meski tak satupun kata terucap, tapi itu sudah cukup bagiku, cukup dengan melihatnya dalam keadaan yang baik-baik saja, bisa tersenyum lepas bersama kawan-kawannya. It's enough.
"Ra , kamu nulis apa ?" tanya Ria yang ada disampingku. Kulemparkan senyum pada Ria sambil menggelengkan kepalaku. aku tak ingin semua orang tau akan perasaan dalam hatiku ini, meskipun terkadang ada beberapa teman yang sering membicarakan antara aku dan Abbas tetapi aku tetap memilih untuk menyimpnnya dalam Diam. "Oiya Sya, wisuda besok, Ayah ibu kita juga diundang hlo, gimana keadaan papah kamu, udah sembuhkan?"tanya Ria kepada Asya. "oh..iya? hehehe Alhamdulillah Ria, udah sembuh kog "balas Asya dengan senyum.
Semenjak diumumkan acara wisuda itu hari-hari yang biasa kulalui berubah menjadi hari-hari yang melelahkan, cari kebaya sana sini, berbelanja perlengkapan, pergi ke salon, yah itulah yang kini menyibukkan Asya dan diriku.
***
Dan pada akhirnya..
“Ayo Ra , acara wisudanya keburu mulai "ajak Asya kepadaku, sebelum meninggalkan kamar. Sepanjang perjalanan menuju tempat wisuda entah mengapa hatiku gundah, memikirkan aku nanti akan bersanding dengan siapa, nilai ujian ku berapa, apakah prestasiku bisa seperti yang diharapkan Ayah dan Ibu atau hanya sekedar mengecewakan . Semua rasa penasaran dan gundah beradu menjadi satu. Setelah sampai ke tempat wisuda, ku melihat teman teman ku begitu senang dan riangnya, terpancar dari raut muka dan senyum yang terlintas. Acara wisuda pun dimulai, semua kawan-kawan ku bersanding bersama ayah ibu mereka masing-masing. Sedangkan aku hanya bisa melihat kebahagiaan mereka, dan berharap aku pun bisa ikut merasakannya. Ingin rasanya merasakan pelukan hangat itu lagi, tapi sayang, dia kini telah pergi dan tak kembali. kuputuskan untuk pergi keluar gedung wisuda, dan menyendiri. Aku merasa rindu Ayah dan Ibu. Tetes demi tetes air mata yang turun kian deras. Diam yang menyedihkan dengan rindu yang menyayat. Rasanya, hati ini tak terlalu kuat jika harus memendam semua kisah ini sendiri, semenjak kejadian itu semua menjadi kelabu dan bahkan hitam kelam. Ku kehilangan sosok yang mencintaiku yaitu Ibuku, dan bahkan dengan kondisi yang seperti itupun Ayahku tak berada disampingku. Hubungan kami mulai renggang semenjak Ayah dan Ibu bercerai, inginku berteriak sekencang mungkin agar mereka kembali, jika mereka tidak kembali, setidaknya mereka bisa mengerti dan merasakan apa yang ku rasakan saat ini. Tapi sayangnya, kini ku tak bisa berteriak untuk membuat mereka mengerti bahkan memahami apa yang kurasakan. Semenjak kejadian itu, yang dapat kulakukan hanyalah tersenyum untuk berterimakasih, menggelengkan kepala yang berarti tidak, dan menganggukan kepala yang berarti iya. Saat ku ingin pergi kemanapun, ku hanya bisa menggunakan kedua tangan ku untuk memutar kursi roda tua ini, karena sekarang kedua kaki ku lumpuh, kutak dapat berbicara seperti dulu lagi, hal itu sudah cukup menyakitkan bagiku, tapi sayangnya semua cobaan ku tak hanya berhenti di situ, akibat tragedi malam itu, akupun juga kehilangan Ibu ku untuk selama lamanya. Sakit sekali rasanya jika harus kehilangan sosok Ibu yang telah mencoba menyelamatkan ku, hal ini terlalu cepat untukku alami sendiri. Dan dengan kondisi yang seperti itu pun, dimana keberadaan  Ayahku, orang bisa merasakan apa yang kurasakan, dimana ia saat itu. Hati ini semakin berkecamuk, dengan setumpuk pertanyaan , sakit, benci, rindu beradu menjadi satu.
Ku tatap langit malam yang penuh bintang dan berharap Ayah ada disini ikut menyaksikan bintang-bintang yang berkerlip indah. “Ayah , engaku dimana? Apakah kau tak merindukan anak mu yang malang ini? Ayah aku yakin, engkau juga merasakan apa yang kurasakan saat ini, tapi apakah kau tak ingin melihatku?  Bertemu sesaat dengan ku setelah beberapa tahun kita terpisah oleh jarak dan waktu?” Ucapku dalam hati. Lantas kupejamkan mataku "Ya Robb ku, ku takkan berhenti berharap agar aku bisa bertemu dengan Ayah ku lagi, agar dia tau betapa aku merindukannya, agar dia tahu betapa ku menyayanginya, dan agar dia tau, bahwa aku memang sangat membutuhkannya. Ku juga takkan berhenti berharap, agar aku masih di beri kesempatan untuk tetap bertahan, sampai akhirnya aku bisa bertemu dengan Ayahku meskipun untuk yang terakhir kalinya, pertemukanlah aku ya Robb Amiin"Do'aku dalam hati.
"Kenapa kau diluar sini ? bergabunglah dengan teman-teman mu bidadari kecilku" ucap seseorang yang berada dibelakangku. Hatikupun tersentak mendengar suara yang tak asing itu. "Ayaah?" ucapku dalam hati, langsung ku putar badanku menghadap kebelakang, dan yang membuat terkejut adalah tak ada seorangpun disana. Jantungku kembali berdegub kencang, Hatiku berasa sesak oleh setumpuk pertanyaan akan suara itu, mungkin aku hanya berhalusinasi karena rindu yang sudah sekian lama tertancap dalam hati. Mungkin rindu ini layaknya sebuah penyakit yang benar-benar akut, bahkan menahun , sampai sampai desah angin pun ku anggap suara Ayah ku sendiri. Resah akan kerinduan dalam hati ini semakin berkecamuk semenjak tragedi itu ..
"Masuklah kedalam Nak , kamu dicari teman-temanmu Aurora , bergabunglah dengan mereka" Ucap suara misterius itu, hatikupun tersentak untuk kesekiann kalinya dan langsung memutar kursi roda ku kearah belakang dimana sumber suara itu berasal. Tak kusangaka, tak ku kira  sosok yang berdiri di belakang ku adalah dia. "Ayaah ?! "teriakku dalam hati. "Iya bidadari kecilku" ucap Ayahku. Langsung kuhampiri Ayah ku dengan mengerakkan  kursi rodaku, lantas kupeluk Ayah dengan seerat mungkin dan agar ku tak kehilangannya untuk kesekian kali
Akhirnya Rindu yang sekian lama terpendam terobati juga . "Maaf Aurora, Ayah tadi sempat menghilang, karena Ayah tadi mengambil syal biru yg tertinggal di villa kemarin . Mungkin kau lupa tak membawanya. dan ini, pakailah Nak, kau terlihat lebih manis sekarang" Ucap ayah sambil mengenakan syal di leherku. "Maaf kan ayah Nak, tak bisa berada disamping mu saat masa-masa sulit menghadangmu, maaf kan Ayah. Ayah tak bermaksud meninggalkanmu sendiri, andai kau tahu, Ayah waktu itu datang ke Pemakaman Ibumu, asal kau tau waktu itu ayah ingin sekali bertemu dengan mu, tapi keadaan mu masih kritis. Ayah menunggu mu sampai siuman Nak , tak lelah ayah selalu berdoa untuk kesembuhanmu, meskipun pada akhirnya keadaan mu seperti ini kau harus tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup. Waktu itu ayah ingin mengucapkan perpisahan pada mu Nak, tapi kau terlalu lelah, dibawah tekanan yang amat berat jadi Ayah tak ingin mengusikmu. Dan karena tuntutan pekerjaan, waktu itu ayah putuskan untuk kembali ke Luar Negeri. Maaf kan Ayah, Ayah sangat merindukanmu Aurora" Ucap ayah lantas, memelukku. Air mata ku jatuh kian deras, membasahi pipi ini dengan lembutnya. " terima kasih ya Allah, terima kasih."ucapku dalam hati. Akhirnya aku bisa merasakan pelukan hangat Ayah ku lagi, setelah beberapa waktu telah terpisah oleh jarak dan waktu.
Setelah melepas penat diluar gedung wisuda, ku putuskan untuk kembali ke dalam bersama Ayah. Rangkaian acara demi acara telah terlewati, Hasil Ujian pun sudah keluar dan alhasil aku masuk juara 3 paralel seperti apa yang diharapkan Ayah Ibuku, ponselku bergetar, ada beberapa sms masuk, salah satunya berisi :
“Selamat.. Aurora Azzahra Latifah  J
Aku sangat bersyukur mendapatkan ucapan Selamat dari Abbas, sungguh hal yang tak kusangka sebelumnya. Lantas kubalas pesan singkatnya:
“Iya, Abbas. Makasih Banyak yaa J
“Iya, sama sama!"
Selain itu, aku juga ditawari Ayah temanku yang memiliki salah satu perusahaan penerbit buku terkenal untuk menjadi penulis cerpen dan novel remaja, mereka mengatakan suka dengan cerpen yang akhir akhir ini aku posting di blog ku. Ku amat sangat bersyukur. Tak hanya itu, saat akhir acara pun aku sempat bertemu dangan Abbas, ia melemparkan senyum padaku, jantungku berdegub kencang,  lalu ia menghampiriku dan memberikanku sebuah kotak , entah apa isinya aku tak tahu , bahkan aku belum esmpat membukanya, karena pada saat perjalanan pulang, aku dan Ayahku mengalami kecelakaan, kami tewas seketika akibat kecelakaan malam itu. Masih terbayang berkas cahaya putih itu, cahaya itu menghampiriku dan membawa diriku pergi entah kemana.
***

Dari sini ku pelajari..
Bahwa perjalanan hidup itu tak selalu mulus, karena terkadang kita harus melewati jalan yang berliku..
Bahwa hidup tak selalu manis, karena terkadang hidup juga bisa terasa amat sangat pahit...
Tapi disisi lain, Allah selalu memberikan yang terbaik, apa yang telah hilang akan tergantikan dengan hal lain yang lebih baik, lebih indah, bahkan hal yang tak pernah ku duga sebelumnya.
Maka, cukup jalani fase-fase yang sulit dalam hidup ini penuh dengan kesabaran, keikhlasan, dan bersyukur atas semua yang telah diberikan, sekecil apapun hal itu, syukurilah! InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja.
Dan satu hal lagi .. tetap tersenyumlah, karena dengan kau mengikuti senyummu, maka kau akan sampai pada bahagiamu. That's it.

Jumat, 24 Mei 2013

Tips Cara Belajar yang Baik

 

1. Ciptakan suasana yang kondusif
Dalam belajar, kamu harus menciptakan suasana yang kondusif, nyaman dan tenang untuk belajar. Cara ini merupakan salah satu cara belajar yang baik karena bagaimanapun jika ingin materi yang kamu pelajari itu bener-bener masuk ke otakmu, kamu harus tenang dan dalam keadaan yang nyaman. Sehingga nggak mengganggu konsentrasi. Belajar di luar ruangan mungkin adalah pilihan yang cukup baik, karena selain lebih fresh, kita juga bisa lebih tenang dan nggak penat dalam belajar.
2. Lihat garis besarnya dahulu
Tips cara belajar yang baik dengan melihat garis besar materi. Jika membaca bahan pelajaran yang baru, jangan langsung menceburkan diri kedalamnya. Kamu bisa lebih meningkatkan pemahaman bila melihat sepintas garis besarnya. Lihatlah semua subjudul, keterangan gambar dan ringkasan yang ada. Jik membaca bacaan yang cukup panjang, maka bacalah dahulu kalimat pertama dari setiap paragrafnya.
3. Buatlah catatan intisari dari bahan pelajaran
Tips cara belajar dengan teknik meringkas intisari dari pelajaran. Kalau kamu meringkas materi dari setiap bahan pelajaran ke dalam sebuah catatan kecil, maka akan sangat membantumu mengingat bahan pelajaran itu. Pada saat kamu menulisnya, kamu pasti membaca materinya lagi, bener kan? Itu akan membuatmu cepat hafal materinya. Sebaiknya catatan itu ditulis kedalam buku kecil atau kertas yang bisa dibawa kemana-mana, sehingga bisa dibaca kapan dan dimanapun kamu berada. Tips Cara belajar yang baik bukan?
4. Berlatihlah tehnik kemampuan mengingat
Cara Belajar Yang Baik dengan teknik kemampuan mengingat. Agar lebih mudah kamu ingat sebaiknya materi yang akan kamu hafal itu diubah menjadi sebuah singkatan atau kata kunci (Mnemonics) dengan formulasi yang mudah diingat-ingat. Seperti MeJiKuHiBiNiU untuk singkatan-singkatan dari warna pelangi, yaitu Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu. Walaupun kamu jika menghafal langsung dalam 1 minggu sudah lupa, dengan menggunakan mnemonics seperti ini kamu bisa ingat sampai puluhan tahun lamanya.
5. Belajarlah dengan tekun dan rutin.
Tips cara belajar yang baik dan paling ampuh adalah dengan tekun dan rutin. Belajar tepat waktu dan serius juga sangat berpengaruh dalam peningkatan prestasi belajar, apabila kamu jarang belajar maupun  hanya belajar jika akan ada ulangan pasti prestasinya gak akan maksimal. Jadi belajarlah dengan tekun dan rutin selagi ada waktu untuk belajar. Juga jangan belajar dengan tergesa-gesa pada hari terakhir sebelum ulangan, cara belajar yang baik seperti itu hasilnya juga nggak akan maksimal.
Demikian beberapa tips cara belajar yang baik efektif dan efisien untuk anda coba, semoga sukses!!
 

When I was your man


Same bed, but it feels just a little bit bigger now
Our song on the radio, but it don't sound the same
When our friends talk about you all that it does is just tear me down
Cause my heart breaks a little when I hear your name
And it all just sound like uh, uh, uh

Hmmm too young, too dumb to realize
That I should have bought you flowers and held your hand
Should have gave you all my hours when I had the chance
Take you to every party cause all you wanted to do was dance
Now my baby is dancing, but she's dancing with another man.

My pride, my ego, my needs and my selfish ways
Caused a good strong woman like you to walk out my life
Now I never, never get to clean up the mess I made
And it haunts me every time I close my eyes
It all just sounds like uh, uh, uh, uh

Too young, too dumb to realize
That I should have bought you flowers and held your hand
Should have gave all my hours when I had the chance
Take you to every party cause all you wanted to do was dance
Now my baby is dancing, but she's dancing with another man.

Although it hurts I'll be the first to say that I was wrong
Oh, I know I'm probably much too late
To try and apologize for my mistakes
But I just want you to know
I hope he buys you flowers, I hope he holds your hand
Give you all his hours when he has the chance
Take you to every party cause I remember how much you loved to dance
Do all the things I should have done when I was your man!
Do all the things I should have done when I was your man!

About Twillight Story

Chapter One-First Light



I'd never given much thought to how I would die, but dying in the place of someone I love seems like a good way to go.
I waited, anxiously outside my Mom, Renée's house in Phoenix. I wore some skinny jeans and an average shirt. My hair was medium length and brown with some red highlights, natural of course. I was waiting outside her house for Phil, mom's fiancé to come pick us up for my four hour plane flight to Seattle, Washington.
The reason? Well since my Mom and Phil dated more, they got much more attached, but Phil was a minor league baseball player so he travels a lot, leaving Mom at home with me yet that made her unhappy. So I came to the conclusion to leave home, to go to the minute, rainy town of Forks where my Dad, Charlie lived. I'd spend a month in Forks every summer with Charlie, in the drizzle, the cold, the cage-like sky. It was torture.
"Esto, you don't have to do this!" Repeated my Mom, giving me one last hug as Phil finally arrived in his car to take me to Phoenix Airport.
"No, um, I do. I want to," I smiled, hugging her. I had said this lie so predominantly now that it seemed to sink in it was the truth. Even I believed it. I was trying to convince myself this was a good idea for me, but my feelings deceived me.
"Well, tell your father I said hey."
"I will," I gave her one last hug, holding back the tears and got in Phil's car.
On the way there, I looked into the side mirror and saw myself. My incredibly pale skin and lime tinged eyes gazed back at me, showing sorrow and tiredness. I looked down at my frail, weak body, not having cheese grating like abs which most of the sixteen year old boys of my school had. My hair was usually a mess, but today it was nice for once, maybe it was as a farewell gesture. My voice was usually quiet, tamed. I never talked when I didn't need to, and when I did it was almost always awkward, for example, the ride with Phil was awkward as I never spoke to him.
Like I said, I used to go up to Forks every summer, up until when I was fourteen where I finally put my foot down and decided I couldn't take it. Forks was so dreary and depressing that I had to make Charlie visit me, down in Phoenix for a change, it helped also as I loved the sun and hated the cold. Any cold water made me want to shrivel up and die.
When we arrived at the airport, the glass of the modernised structure reflecting the prominent warmth of the sun, I couldn't help but think I was saying my goodbyes to the gargantuan star. I was never going to see the sun in all of its glory in a long time.
I headed for my gate, "Bye, Onesto," Phil most likely did that to spite me, as I hated my real name. Onesto, which is Italian for honest is a name my Mom and Charlie picked when they decided Italy was their favourite country. Onesto Amadeus Swan.
"Bye," I said, waving and walking over to my gate. I nearly tripped on my way there; I'm so clumsy you won't believe it.
Most of the flight was enamoured with a hardly pleasant daze. My eyelids when they flickered open saw that we gliding over dense clouds coloured by the paint of grey. I sighed and shut the blind, stretching the night mask over my twin orbs in exhaustion and stomach churning anxiety.
Just to clarify, I am gay, and I'm not the kind who waves a flag announcing I'm so proud of it. I'm not fazed, I'm just inclined into liking the same sex, and I'm not going to rub in people's faces. Charlie and mom were fine about, in fact they were overly cool, almost relieved. They're all I cared about; anybody else can go to hell.
Getting off my plane in Seattle I boarded the last plane to Port Angeles, the main town near Forks, where I would then meet Charlie who'd drive me in his cruiser to the repetitious town. Charlie was a cop, which was embarrassing for me as I would be known as 'Chief Swan's Son'.
Unfortunately for me, this aircraft didn't have blinds, so I had to gaze endlessly out of the window at the looming pine trees and sunken valleys with powerful rivers forcing their way between them.
I saw Charlie stood there in his police uniform when I got off the miniature jet; he must've just left work. He gave me an awkward smile and I gave him a one armed hug.
"Good to see you, Esto," Greeted Charlie, putting my two suitcases in the trunk of the cop car. I hadn't brought that many clothes as most of them were 'summer' clothes, and I had very little winter attire.
"You too, Dad," We got into the car and drove off for the Hell.
An uncomfortable silence positioned itself in the car, leading me to look out of the window and rest my head against the cool window. I saw the forest; the rain water trickling down the window, this water was an omen. I had to admit, Washington was very beautiful. Green tree trunks for the moss of time had wreathed itself around it, green canopy that blocked out any potential sunlight, even green air. This place was too green. It was an alien planet.
"I got you a car," Charlie said, breaking the silence. He looked over at me, awaiting my expression.
I turned to him, my face plastered with disbelief and gratitude, "Really?"
"Yeah, it's an old one but she'll do."
"Dad you shouldn't have, I've already got some money for a car in my savings," The money was for school, and speaking of school it was the middle of the semester here, so I wouldn't be able to blend in easily.
"No it's fine, I got it real cheap. She's a classic," He looked pleased, yet by the way he said it was cheap seemed to me he meant it wasn't very good.
I looked down, fumbling with my freezing hands, "Oh, um, well thanks, Dad."
"I got it off Billy Black, Jacob's old man."
"Ah, who's Jacob?" I felt awkward asking that.
"You used to make mud pies when you were little."
"Oh I remember now, from La Push?" Jacob Black was a tanned boy, last time I saw him, his hair was shoulder length, I was 13 at the time. My hair just flipped from the right across my face, covering one eye.
"That's him, well Billy gave it to me for 200 dollars, it runs like a top!" He sounded proud, and that's when I realised we were at Forks.
Home to 3,120 people, Forks was as I said, under a near constant cover of clouds and rain, even now.
Getting out of the car, I saw that Charlie's house, which will soon be our home, hadn't changed at all. The white, badly painted wooden frames keeping the house up brought back painful, boring memories. The windows were unkempt and had clutter lining the frames. And that's when I saw it. The truck, not a car, sitting like a demon in the driveway. Charlie fortunately couldn't see my facial expression, but it looked like I just threw up in my mouth and had to swallow it back. The vehicle was a 'red' colour, and I use the air quotes as it was more of a pink-y red. I turned back to Charlie, who was getting the suitcases out, struggling. I went over to help, but my damsel-in-distress body was finding it hard to cope with the heavy boxes. I managed though, but it annoyed me how I was sixteen and weaker than a drowned rat.
Putting my stuff upstairs, into my room which was pretty purple, I saw how much it had changed. The toys which used to be here had been cleared out and had been replaced by a desk where I'd place my Macbook. The bed was the same one, but with purple sheets.
"I didn't know what your favourite colour was, purple's good, right?" Charlie asked, scratching his head.
"Purple's cool, thanks," We walked back downstairs then to inspect the truck. As we passed the kitchen I saw it had the same faded yellow cupboard mom used when she lived her to try and brighten up the place. In her words, she tried 'to bring in as much sunlight as possible.' Mom, sorry, but sunlight is nonexistent here.
Outside, in the freezing cold wind, I put my hood up from my brown leather jacked and wore my grey gloves.
"Well, what'dya think?" Asked Charlie.
"It's good, thanks Dad," I was a terrible liar, but this seemed to do it for him.
"Good. I'm going to go clear some things up for you upstairs, I also cleared some shelves out for you in the bathroom."
"Oh right, one bathroom," I muttered that so he wouldn't hear me.
After putting my things away and crying a little covertly in my room as I realised this was my new life, I heard someone outside. I checked out after my cry through my bedroom window and saw a middle aged man in a wheelchair wearing a hat being pushed up the drive by a cute (not sexual, as in baby cute) boy a few years younger than me with long black hair. I knew that I had to go down to see the commotion, much to my dismay.
"Here he his," Said Charlie, turning to the sound of my black converse touching the wet wood on the porch. The other two turned to see the new boy, the younger one smiled a cheesy grin, he wasn't cute after all, he was quite hot, but his hair was in desperate need of a hack.
"Hey, Esto," Greeted the man in the wheelchair.
"Hey, you're Billy right?" I said, doing a half smile before looking at the boy who smiled at me. He seemed to do a little chuckle when I looked back down the floor.
"Sure am, still dancing like always," We laughed, me laughing a more of a forced laugh, "This is my boy, Jacob."
"Hi, we used to mud pies when we little," He chuckled a little, whilst Billy and Charlie chatted about some fishing trip.
"No I remember, um, tell your Dad I said thanks for the truck," I smiled slightly, and then looked back down to my feet; I looked back up and saw he was looking at me but then looked away quickly.
"Sure I will."
"So, you gonna' check out your truck or what?" Asked Charlie, seeming to be happy that I was pleased. I never usually was. It wasn't that I was depressed but I felt, I don't know, not whole.
"Sure," I laughed at the extremeness of the situation, where Jacob followed me into the truck.
Charlie and Billy watched the vehicle start off.
"Ok, you have to double pump the clutch when you shift but without that it should be good," He pointed to the little cogs as I nodded to him, shivering a little as it was so cold around here.
"Ok, do you wanna start riding to school then?" I was trying to be friendly, he was too.
"Oh I go to school on the reservation in La Push."
"Oh right," I said, flicking some hair from my usually covered eye and gazed at him, he smiled and then got out. "I'm gonna ride it now, watch out. Billy; you and I can race," I laughed at that a bit, causing the others to as well, Billy nodded at me, chuckling to Charlie.
The truck roared to life, making me jump a little. I pushed down the pedal and off I went. I drove down the end of the street and then back, turning on the radio to see how that turned out. It was loud though static.
Coming back then, I parked in the drive, "It's good, thanks for this, Billy."
"Anytime, son. You need it fixed just drop down by our place, Jake here will fix it for you."
Jacob smiled at this, to which I just nodded and left the truck to go inside and get something to eat, "Bye, Billy, bye, Jacob."
The latter waved at me and smiled, whereas Billy just gesture the signal of farewell.
I decided then to raid the house; I was starved. The cupboard were bare, I only found some tomato soup and bread. I had to seriously go get some groceries around here. I raided the fridge, but what was there to raid? It was unbelievably barren! Only butter and milk. What did this guy eat? I Guess I was cooking tomato soup. I poured the soup into a pan and buttered the bread, using the milk as a drink for me and Charlie.
Hearing him say goodbye about 5 minutes later to the Black's cued the moment the soup was cooked.
"I made us something to eat, Dad." He thanked me and said he'd do the washing up.
As we ate, I decided to tell him about his stark quantities of food! "Dad, the cupboards have literally no food in them. So, I'm going to go grocery shopping, can you give me some money for it? I'll go after school tomorrow (it was Sunday)."

He gulped down his milk and finished his soup, "Sure."
"Thanks," That was all we said that night as I decided to go up to bed.
Having a shower and getting changed into a top I got from a cheap store and some boxers, revealing my fairly large bulge if I do say so myself, I got into bed, my medium length hair still damp.
I did some reading, deciding to study Bronte's 'Wuthering Heights', my favourite book. Ha
lfway through where Heathcliffe embraces the body of his former lover, my phone rang. It was Mom.
"Hey, Mom," I greeted, sounded tired, closing the book and putting it on the floor, deciding that was enough reading for today.
"Hey baby, how was your journey?" She sounded excited, and also caught up in something.
"It was…good. Charlie has no food so I'm gonna have to go grocery shopping for him," We both laughed a bit at this and spoke about what she thought my first day at Forks High would be like.
"Do you think you'll meet a hot jock there?" She sounded excited by this and I giggled a bit, pulling my knees up under the covers.
"Probably not, Mom," I chuckled, and said my goodbyes after a slightly emotional conversation.
I smiled slightly at Mom and turned off the light, not eagerly awaiting my first day at Forks High

Rabu, 22 Mei 2013

Pentingnya sarapan pagi


Apakah anda termasuk orang yang selalu meninggalkan sarapanpagi? Jika ya, maka hal tersebut patut anda pertimbangkan kembali. Hal ini dikarenakan, sarapanpagi memberikan segudang manfaat bagi kesehatan tubuh anda. Menurut beberapa penelitian, sarapan pagi sangat penting, entah itu hanya secangkir kopi yang ditemani dengan roti dan buah, ataupun hanya semangkuk sereal.


Melewatkan Sarapan Pagi Berelasi Dengan Resiko Obesitas??
Percaya ngga ??Ini buktinyaa....
Sebuah penelitian pada tahun 2003 di American Journal of Epidemiology menunjukkan bahwa orang yang melewatkan sarapan, cenderung 4,5 kali menjadi lebih gemuk daripada orang yang selalu menyempatkan waktu untuk sarapan. Penelitian yang melibatkan 499 orang yang dietnya dipantau selama kurun waktu setahun tersebut, juga menunjukkan bahwa makan malam di luar rumah dan melewatkan sarapan berelasi dengan resiko obesitas.
Sebuah penelitian yang dipresentasikan pada tahun 2003 pada konferensi tahunan American Heart Association menunjukkan bahwa, orang yang selalu sarapan cenderung memiliki kadar gula darah yang baik dan tidak cepat lapar di siang harinya. “Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa sarapan pagi adalah sesuatu yang penting saat ini,” ujar seorang peneliti, Dr Mark Pereira, dari Harvard Medical School. “Sarapan memainkan peran penting dalam mengurangi resiko diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular”. Waw,,...
Sarapan Pagi akan membuat anda LebihBerenergI


Makan sarapan yang tinggi serat dan karbohidrat rendah bisa membantu Anda merasa lebih berenergi dan menjaga tubuh dari perasaan lelah sepanjang hari, menurut sebuah studi tahun 1999 di International Journal of Food Sciences and Nutrition.

Melewatkan Sarapan Pagi Cenderung Memiliki Kadar Kolesterol yang Buruk

Sebuah studi di American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa orang yang melewatkan sarapan pagi lebih cenderung memiliki kadar kolesterol yang buruk dan sensitivitas insulin akan menurun dibandingkan dengan orang yang sarapan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa orang yang sarapan cenderung mengonsumsi sekitar 100 kalori lebih sedikit per hari jika dibandingkan dengan orang-orang yang melewatkan sarapan.

Sarapan Pagi Membantu Anda Untuk Meningkatkan Memori Otak

Mengonsumsi makanan tinggi energi saat sarapan bisa membantu anda dalam meningkatkan memori jangka pendek, menurut sebuah studi yang melibatkan 319 remaja (antara usia 13 hingga 20 tahun) dalam Journal of Adolescent Health. Para peneliti juga menemukan bahwa makan sarapan berkalori tinggi akan menghambat konsentrasi.

Melewatkan Sarapan Pagi Justru Membuat Anda Mengonsumsi Banyak Lemak
                                                                                                               
Orang yang jarang sarapan cenderung akan mengonsumsi lebih banyak
lemak dan hanya mengonsumsi sedikit nutrisi-nutrisi yang penting seperti kalsium, kalium, dan serat jika dibandingkan dengan orang yang selalu menyempatkan sarapan. Hal ini berdasarkan sebuah penelitian di tahun 2011 dalam Journal Nutrition Research and Practice.

So,,Apakah anda masih mau melewatkan sarapan di pagi harii ???