Dalam
Diam
Sejuknya
masih melekat, dan aroma embun pun masih terhirup. Ku rekatkan jaket biru yang
telah menyelimutiku selama semalaman penuh.Bahkan mata ini masih basah, bahkan
aku pun tak tau kapan aku berhenti menangisi kepergiannya dari hidupku. Ku lihat
jendela di samping tempat tidurku, disana masih tersisa titik-titik air hujan yang
menetes.
"kembalilah..kembalilah
dengan cinta mu" Rintihku dalam hati.
Perlahan
namun pasti air yang terbntuk dimata ku, kini mulai jatuh, menetes dengan
lembutnya membasahi pipi .Sedih rasanya jika tak bisa bertemu lagi denganya ,
dan tak bisa merasakan pelukan hangatnya saat ia merengkuh tubuh beku akan
kerinnduan ini.
Mulai ku pejamkan lagi mata ini, berharap semua yang terjadi
hanya sekedar mimpi. Dan alhasil , itu bukan mimpi tapi bisa juga disebut sebagai
mimpi, mimpi yang sangat buruk, mimpi buruk yang beralih menjadi kenyataan
pahit bahkan mnyakitkan. "Kembali.." Rintihku lagi, tak lelah ku berharap
agar dia kembali, meskipun aku tahu pada akhirnya ia takkan pernah kembali
dihidupku lagi, tapi aku yakin aku kan bertemu dengan nya walau hanya di batas
mimpi, tapi akankah aku harus hidup terus menerus dalam mimpi. Jawabannya: ya ,jika aku adalah sosok egois yang mengabaikan
sekelompok orang yang masih peduli dan menyayangiku, tapi aku memilih jawaban
Tidak, Karena aku yakin aku akan menemukan sebuah kebahagian, kebahagiaan yang
tersembunyi dibalik semua ini, kebahagian yang telah tertata rapi diambang
kenyataan yang pahit. Kebahagiaan yang masih terpendam bisu tanpa suara, bahkan
dalam diam yang menyedihkan
***
Ku mencoba melalui hari-hari seperti biasa, meskipun agak sedikit
berbeda, kulalui semua ini dengan harapan aku bisa melupakan semua yang telah terjadi,
menepis resah setiap kerinduan itu muncul. Sayangnya kejadian waktu itu masih
melekat dalam memoriku. "kapan aku bisa melupakan semua ini dan berhenti menyalahkan
diriku sendiri?!" bisiku dalam hati. Dalam situasi seperti ini , yang
kubutuhkan hanyalah seorang sahabat . Dalam situasi seperti ini hanya dia yang
bisa memahamiku, disaat orang yang dulu paling mengerti aku pergi bahkan tak kembali.
Dia Asya, sahabtku sejak kecil, dia yang selalu berada di sampingku dimanapun kapanpun,
selalu ada untuk ku saat aku membutuhkannya, dan ajaibnya lagi hanya dia,
satu-satunya orang yang bisa mengerti apa yang kubutuhkan saat ini. Dan ku
berjanji pada diri ku sendiri untuk selalu menjaganya, apapun yang terjadi,
meskipun dengan kondisiku yang sekarang ini, kukan tetap berusaha.
"Dimakan dulu Ra, nanti kamu sakit" ucap Asya kepada
ku. Aku hanya menggelengkan kepala ku dengan tatapan yang kosong "Ra, plis
makan dulu. udah dua hari kamu ngga
makan sama sekali. Aku khawatir Ra! "ucapnya. Kulihat ada sepintas
ketulusan dimatanya dan akhirnya aku menuruti apa yang ia inginkan.
Semenjak
kejadian itu, kuhanya bisa diam. Dalam Diam yang tersimpan berjuta kerinduan yang
menyayat. "Dimana Dia sekarang? Apakah dia sudah mengetahui tentang semua
ini?" tanyaku dalam hati ketika kerinduan akan sosok yang berbeda itu
muncul.Disini ku slalu berharap Smoga ia cepat kembali, sosok yg berbeda ini bisa
ikut merasakan apa yang kurasakan. Entah ada apa diantara kami, tapi memang begitulah
kenyataanya.
***
Pagi Ini kuputuskan untuk berkeliling sekitar villa, setelah
puas berkeliling untuk menepis semua resah dan rindu yang telah bersarang,
kuputuskan untuk singgah di tepi danau , sambil mengenakan syal biru
pemberiannya. Ia paling suka saat aku mengenakan syal itu, tak jarang ia
berkata bahwa aku terlihat lebih manis dengan syal pembrianya itu. Kuarahkan
pandangan ku ke danau yang membentang luas, lalu ku pejamkan kedua mata ini ditengah
semilir angin yang menari-nari disekitarku sembari membayangkan kehadirannya
disini, tengah duduk bersamaku, sambil memandang bintang-bintang yang bercanda riang dengan kerlipnya diatas
sana. Ya, itu lah yang biasa kami lakukan saat kami masih bersama. Usai itu, ku
lanjutkan perjalanan ku, kembali pulang ke Villa, sebelum Asya khawatir dengan
ku, yang pergi tanpa pamit
Setelah sampai rumah, ku langsung menuju kamar tidurku, saat
kulihat potret ku bersama kawan-kawan kala itu, selintas kerinduan akan
kenanganku bersama mereka muncul dengan sendirinya. Kenangan yang tak dapat
dilupakan meski masa masa sekolahku telah berlalu. Ingin ku seperti teman yang
lain sibuk mencari Universitas favorit untuk jenjang selanjutnya, tapi sayang, ku
hanya bisa menghabiskan sisa-sisa hariku ku dengan tinta hitam dan secarik
kertas diatas tempat tidurku. Menulis apa yang perlu kuungkapkan serta
harapan-harapan yang masih tersisa dalam hidupku. Tak jarang setiap malam ku selalu
berdoa, semoga masih bisa dipertemukan dengan mentari esok dan embun pagi yang
menyapaku setiap paginya."Kupercaya akan kuasa Mu ya Robb ku, Kau yang
Maha segalanya, kekuasanmu melebihi apapun. Dan ku yakin, apa yang telah dan
akan kau berikan adalah yang terbaik, semoga esok hari ku masih bisa menikmati
nikmat mu Ya Robb. Cukup dengan melihat mentari di pagi hari dan bintang yang
bertaburan setiap malamnya, selalu saja begitu dan sudah cukup bagiku. Amiin".
"Aamiin"ucap Asya sahabatku. Pandanganku tertuju ke arah bayangan
hitam yang terbentuk akibat cahaya kecil yang bersinar disekeliling kamarku."Aku
tau Ra, kamu sedang berdo'a. Tetaplah semangat sahabat kecilku, Kamu pasti bisa,"katanya
meyakinkanku untuk kesekiankalinya sembari berjalan mendekatiku yang duduk diatas
ranjang . Lantas hanya kulemparkan senyum manis dari bibirku, sebagai ucapan
terimakasihku.
***
Setelah
menghabiskan waktu beberapa minggu untuk melepas penat di Villa itu, kini tiba
saat nya kembali ke Ibu kota untuk menghadiri
acara Wisuda SMA ku, bersanding bersama kawan-kawan dengan kebaya Wisuda, foto
perpisahan bersama, bercanda ria untuk yang terakhir kalinya "Unforgetable
Moments" bisikku dalam hati.
"Ra..udah
sampe nih,"ucap Asya "Raa?!"ucapnya lagi sambil menggetarkan
bahuku yang sempat membuyarkan lamunanku. "cieeh..nglamunin apa ayo? Ihh
senyum-senyum sendiri, emmt aku tau, Nglamunin Abbas yaa"ucapnya sambil
melirik padaku. Dan aku pun hanya bisa tersipu malu oleh nya.
Mungkin
rindu ini akan segera terobati, bertemu lagi dengannya di penghujung perjalanan
SMA. Hari itu kami semua berkumpul disekolah untuk mengetahui pengumuman acara
wisuda, tanpa disengaja ku berpapasan dengannya, dan tanpa disengaja juga tatapan
mata kami beradu, dan sejak itu waktupun terasa berhenti seketika. Selama ini
kami hanya saling diam, tatapan mata yang beradu dalam diam. Ku berusaha
menyembunyikan perasaan yang ada dengan langsung mengalihkan pandangan mataku darinya,
tapi ku merasa ia tetap saja menatapku. "Oh No, Pasti hanya perasaan
kusaja" Ucap hatiku untuk menepis resah yang tiada bertepi. Dibalik diam
ku, hatikupun bersorak, bersyukur masih dipertemukan dengannya, meski tak
satupun kata terucap, tapi itu sudah cukup bagiku, cukup dengan melihatnya dalam
keadaan yang baik-baik saja, bisa tersenyum lepas bersama kawan-kawannya. It's
enough.
"Ra ,
kamu nulis apa ?" tanya Ria yang ada disampingku. Kulemparkan senyum pada
Ria sambil menggelengkan kepalaku. aku tak ingin semua orang tau akan perasaan
dalam hatiku ini, meskipun terkadang ada beberapa teman yang sering
membicarakan antara aku dan Abbas tetapi aku tetap memilih untuk menyimpnnya dalam
Diam. "Oiya Sya, wisuda besok, Ayah ibu kita juga diundang hlo, gimana keadaan
papah kamu, udah sembuhkan?"tanya Ria kepada Asya. "oh..iya? hehehe
Alhamdulillah Ria, udah sembuh kog "balas Asya dengan senyum.
Semenjak diumumkan
acara wisuda itu hari-hari yang biasa kulalui berubah menjadi hari-hari yang
melelahkan, cari kebaya sana sini, berbelanja perlengkapan, pergi ke salon, yah
itulah yang kini menyibukkan Asya dan diriku.
***
Dan pada
akhirnya..
“Ayo Ra ,
acara wisudanya keburu mulai "ajak Asya kepadaku, sebelum meninggalkan
kamar. Sepanjang perjalanan menuju tempat wisuda entah mengapa hatiku gundah,
memikirkan aku nanti akan bersanding dengan siapa, nilai ujian ku berapa,
apakah prestasiku bisa seperti yang diharapkan Ayah dan Ibu atau hanya sekedar
mengecewakan . Semua rasa penasaran dan gundah beradu menjadi satu. Setelah
sampai ke tempat wisuda, ku melihat teman teman ku begitu senang dan riangnya,
terpancar dari raut muka dan senyum yang terlintas. Acara wisuda pun dimulai,
semua kawan-kawan ku bersanding bersama ayah ibu mereka masing-masing. Sedangkan
aku hanya bisa melihat kebahagiaan mereka, dan berharap aku pun bisa ikut
merasakannya. Ingin rasanya merasakan pelukan hangat itu lagi, tapi sayang, dia
kini telah pergi dan tak kembali. kuputuskan untuk pergi keluar gedung wisuda,
dan menyendiri. Aku merasa rindu Ayah dan Ibu. Tetes demi tetes air mata yang
turun kian deras. Diam yang menyedihkan dengan rindu yang menyayat. Rasanya,
hati ini tak terlalu kuat jika harus memendam semua kisah ini sendiri, semenjak
kejadian itu semua menjadi kelabu dan bahkan hitam kelam. Ku kehilangan sosok yang
mencintaiku yaitu Ibuku, dan bahkan dengan kondisi yang seperti itupun Ayahku
tak berada disampingku. Hubungan kami mulai renggang semenjak Ayah dan Ibu
bercerai, inginku berteriak sekencang mungkin agar mereka kembali, jika mereka
tidak kembali, setidaknya mereka bisa mengerti dan merasakan apa yang ku
rasakan saat ini. Tapi sayangnya, kini ku tak bisa berteriak untuk membuat
mereka mengerti bahkan memahami apa yang kurasakan. Semenjak kejadian itu, yang
dapat kulakukan hanyalah tersenyum untuk berterimakasih, menggelengkan kepala
yang berarti tidak, dan menganggukan kepala yang berarti iya. Saat ku ingin
pergi kemanapun, ku hanya bisa menggunakan kedua tangan ku untuk memutar kursi
roda tua ini, karena sekarang kedua kaki ku lumpuh, kutak dapat berbicara
seperti dulu lagi, hal itu sudah cukup menyakitkan bagiku, tapi sayangnya semua
cobaan ku tak hanya berhenti di situ, akibat tragedi malam itu, akupun juga
kehilangan Ibu ku untuk selama lamanya. Sakit sekali rasanya jika harus kehilangan
sosok Ibu yang telah mencoba menyelamatkan ku, hal ini terlalu cepat untukku
alami sendiri. Dan dengan kondisi yang seperti itu pun, dimana keberadaan Ayahku, orang bisa merasakan apa yang
kurasakan, dimana ia saat itu. Hati ini semakin berkecamuk, dengan setumpuk
pertanyaan , sakit, benci, rindu beradu menjadi satu.
Ku tatap
langit malam yang penuh bintang dan berharap Ayah ada disini ikut menyaksikan
bintang-bintang yang berkerlip indah. “Ayah , engaku dimana? Apakah kau tak
merindukan anak mu yang malang ini? Ayah aku yakin, engkau juga merasakan apa yang
kurasakan saat ini, tapi apakah kau tak ingin melihatku? Bertemu sesaat dengan ku setelah beberapa
tahun kita terpisah oleh jarak dan waktu?” Ucapku dalam hati. Lantas kupejamkan
mataku "Ya Robb ku, ku takkan berhenti berharap agar aku bisa bertemu dengan
Ayah ku lagi, agar dia tau betapa aku merindukannya, agar dia tahu betapa ku menyayanginya,
dan agar dia tau, bahwa aku memang sangat membutuhkannya. Ku juga takkan berhenti
berharap, agar aku masih di beri kesempatan untuk tetap bertahan, sampai
akhirnya aku bisa bertemu dengan Ayahku meskipun untuk yang terakhir kalinya, pertemukanlah
aku ya Robb Amiin"Do'aku dalam hati.
"Kenapa
kau diluar sini ? bergabunglah dengan teman-teman mu bidadari kecilku" ucap
seseorang yang berada dibelakangku. Hatikupun tersentak mendengar suara yang
tak asing itu. "Ayaah?" ucapku dalam hati, langsung ku putar badanku
menghadap kebelakang, dan yang membuat terkejut adalah tak ada seorangpun disana.
Jantungku kembali berdegub kencang, Hatiku berasa sesak oleh setumpuk
pertanyaan akan suara itu, mungkin aku hanya berhalusinasi karena rindu yang sudah
sekian lama tertancap dalam hati. Mungkin rindu ini layaknya sebuah penyakit yang
benar-benar akut, bahkan menahun , sampai sampai desah angin pun ku anggap
suara Ayah ku sendiri. Resah akan kerinduan dalam hati ini semakin berkecamuk semenjak
tragedi itu ..
"Masuklah
kedalam Nak , kamu dicari teman-temanmu Aurora , bergabunglah dengan mereka"
Ucap suara misterius itu, hatikupun tersentak untuk kesekiann kalinya dan langsung
memutar kursi roda ku kearah belakang dimana sumber suara itu berasal. Tak kusangaka,
tak ku kira sosok yang berdiri di
belakang ku adalah dia. "Ayaah ?! "teriakku dalam hati. "Iya
bidadari kecilku" ucap Ayahku. Langsung kuhampiri Ayah ku dengan mengerakkan
kursi rodaku, lantas kupeluk Ayah dengan
seerat mungkin dan agar ku tak kehilangannya untuk kesekian kali
Akhirnya
Rindu yang sekian lama terpendam terobati juga . "Maaf Aurora, Ayah tadi
sempat menghilang, karena Ayah tadi mengambil syal biru yg tertinggal di villa
kemarin . Mungkin kau lupa tak membawanya. dan ini, pakailah Nak, kau terlihat
lebih manis sekarang" Ucap ayah sambil mengenakan syal di leherku. "Maaf
kan ayah Nak, tak bisa berada disamping mu saat masa-masa sulit menghadangmu,
maaf kan Ayah. Ayah tak bermaksud meninggalkanmu sendiri, andai kau tahu, Ayah
waktu itu datang ke Pemakaman Ibumu, asal kau tau waktu itu ayah ingin sekali
bertemu dengan mu, tapi keadaan mu masih kritis. Ayah menunggu mu sampai siuman
Nak , tak lelah ayah selalu berdoa untuk kesembuhanmu, meskipun pada akhirnya
keadaan mu seperti ini kau harus tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk
melanjutkan hidup. Waktu itu ayah ingin mengucapkan perpisahan pada mu Nak, tapi
kau terlalu lelah, dibawah tekanan yang amat berat jadi Ayah tak ingin mengusikmu.
Dan karena tuntutan pekerjaan, waktu itu ayah putuskan untuk kembali ke Luar
Negeri. Maaf kan Ayah, Ayah sangat merindukanmu Aurora" Ucap ayah lantas, memelukku.
Air mata ku jatuh kian deras, membasahi pipi ini dengan lembutnya. " terima
kasih ya Allah, terima kasih."ucapku dalam hati. Akhirnya aku bisa
merasakan pelukan hangat Ayah ku lagi, setelah beberapa waktu telah terpisah
oleh jarak dan waktu.
Setelah melepas penat diluar gedung
wisuda, ku putuskan untuk kembali ke dalam bersama Ayah. Rangkaian acara demi
acara telah terlewati, Hasil Ujian pun sudah keluar dan alhasil aku masuk juara
3 paralel seperti apa yang diharapkan Ayah Ibuku, ponselku bergetar, ada beberapa
sms masuk, salah satunya berisi :
“Selamat..
Aurora Azzahra Latifah J”
Aku sangat
bersyukur mendapatkan ucapan Selamat dari Abbas, sungguh hal yang tak kusangka
sebelumnya. Lantas kubalas pesan singkatnya:
“Iya,
Abbas. Makasih Banyak yaa J”
“Iya, sama
sama!"
Selain
itu, aku juga ditawari Ayah temanku yang memiliki salah satu perusahaan
penerbit buku terkenal untuk menjadi penulis cerpen dan novel remaja, mereka
mengatakan suka dengan cerpen yang akhir akhir ini aku posting di blog ku. Ku
amat sangat bersyukur. Tak hanya itu, saat akhir acara pun aku sempat bertemu dangan
Abbas, ia melemparkan senyum padaku, jantungku berdegub kencang, lalu ia menghampiriku dan memberikanku sebuah
kotak , entah apa isinya aku tak tahu , bahkan aku belum esmpat membukanya, karena
pada saat perjalanan pulang, aku dan Ayahku mengalami kecelakaan, kami tewas
seketika akibat kecelakaan malam itu. Masih terbayang berkas cahaya putih itu,
cahaya itu menghampiriku dan membawa diriku pergi entah kemana.
***
Dari
sini ku pelajari..
Bahwa perjalanan hidup
itu tak selalu mulus, karena terkadang kita harus melewati jalan yang berliku..
Bahwa hidup tak
selalu manis, karena terkadang hidup juga bisa terasa amat sangat pahit...
Tapi disisi lain, Allah
selalu memberikan yang terbaik, apa yang telah hilang akan tergantikan dengan
hal lain yang lebih baik, lebih indah, bahkan hal yang tak pernah ku duga
sebelumnya.
Maka, cukup jalani
fase-fase yang sulit dalam hidup ini penuh dengan kesabaran, keikhlasan, dan
bersyukur atas semua yang telah diberikan, sekecil apapun hal itu, syukurilah!
InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja.
Dan satu hal lagi ..
tetap tersenyumlah, karena dengan kau mengikuti senyummu, maka kau akan sampai
pada bahagiamu. That's it.
